Cinta itu Indah

Cinta..
Cinta memang indah. Dan cinta akan indah hanya apabila dilandasi sebuah cinta itu dengan kasih sayang. Dan sekuat kasih sayang untuk pondasi cinta adalah kasih sayang Sang Pencipta. Ya.. tentu demikian sebab sebenarnya cinta yang suci datangnya berasal dari-Nya jua. Dia lah yang memberikan cinta. Oh cinta..
Dan cinta yang paling utama adalah cintanya makhluk kepada Sang Pencipta. Dia lah segalanya.
Dan cinta akan dunia/harta adalah awal dari petaka


Ya Allah, aku cinta pada-Mu ya Allah. Adakah aku termasuk yang di cintai ??
Allah maha Besar,,,

Wanita idaman Pria

 Kaum pria memyukai wanita pada umumnya karna 10 hal di bawah ini :
1. Perhatian
  Seorang yang penuh perhatian dengan hal-hal kecil sekalipun, seperti ingat dengan ulang tahu ayah Anda padahal belum menikah, maka hal seperti itulah yang akan membantu dan memperkuat hubungan kalian.

2. Taat beribadah
  Landasan Agama adalah salah satu pegangan hidup untuk kita manusia. Taat beragama menunjukan bahwa seorang wanita tersebut mempunyai prinsip hidup yang baik dan yang dia tekuni, sehingga nantinya bisa mentaati Anda juga ketika Anda sudah menikah dengannya.

3. Sederhana
 Coba lihat apakah wanita yang Anda suka itu suka pamer?jika ya, maka wanita itu telah menunjukkan bahwa dirinya itu tidak percaya diri dan tidak berperilaku sederhana, karena sesungguhnya dengan memamerkan sesuatu yang lebih dari dirinya hanyalah satu upaya diri untuk menutup-nutupi semua kekurangannya. Tentu yang seperti ini tidak disukai kaum pria.
  
4. Hemat
 Kebanyakan kaum Adam tidak suka dengan seotrang cewek yang matre, karena hanya menghabiskan uang untuk belanja hal-hal yang tidak perlu. Coba perhatikan dari cara dia menghabiskan uangnya sekarang, apakah wanita yang Anda sukai itu termasuk orang yang hemat, pelit, atau suka hura-hura?

5. Dewasa
  Laki-laki suka dengan seorang wanita yang bijaksana dan bersikap dewasa. Di saat kesusahan, seorang Pria sangat akan membutuh bantuan dari seorang wanita pendampingnya yang dewasa dan bijaksana dalam mengambil keputusan

6. Sabar
  Saat kamu janji bertemu di satu tempat dengannya dan kebetulan kamu telat waktu untuk datang, sang wanita tidak marah sama sekali saat kamu datang padahal dia sudah menunggu sangat lama. Kesabaranya yang seperti ini mencerminkan sifatnya yang memang penyabar. Dan sifat seperti ini akan membuat seorang Pria akan lebih menyukainya

7. Lemah lembut
 Coba perhatikan cara wanita anda berbicara kepada teman-temannya. Apakah dia selalu suka bernada keras, teriak-teriak, atau sopan santun dan selalu lembut dalam berkata-kata? Ciri-ciri inilah yang mencerminkan di mana cara si wanita akan berbicara kepada anda dan keluarga anda nantinya.

8. Pandai Merawat diri

Bukan berarti seorang wanita itu harus selalu tampil cantik, tapi menjaga kecantikan itu juga berarti si wanita itu tahu bagaimana caranya menjaga dan merawat dirinya sendiri. Sekiranya anda sedang berkencan dengan dia, perhatikanlah “make-up” yang dia pakai. Menjaga kecantikan itu berarti menjaga penampilan secukupnya dan sewajarnya di saat dan tempat yang tepat.

9. Keibuan
Sifat selanjutnya yang menjadi impian kaum pria adalah wanita yang mempunyai sifat keibuan.
Perhatikan saja pada perilaku seorang wanita, kalau ia senang bermain dengan anak-anak kecil, bisa menjadi tanda kalau dia adalah calon istri yang baik. Kenapa?, karena dia bisa menjadi seorang ibu yang pandai  merawat keluarganya di dalam rumah tangga.

10. Tegar dan mau menderita
Inilah salah satu ciri-ciri dari wanita yang agak susah dicari. Mengapa? Pada umumnya dalam satu keluarga, seorang laki-lakilah yang bekerja untuk mencari uang. Oleh karena itu, jika Anda sudah menemukan  seorang wanita yang bersedia menderita dengan Anda, maka pelihara dan jagalah dia.

Sabar dan Ikhlas.


Sabar....
Ikhlas……………
Dua kata sederhana
Mudah di ucapkan dan mudah pula di cerna...
Namun sangat dan sangat sulit di lakukan ??

Sabar dan ikhlas adalah kunci utama dalam menghadapi semua masalah/ujian yang ditimpakan kepada kita. Dengan sabar dan ikhlas semua ujian tersebut akan terasa ringan bila kita mampu menerapkannya.

Belajar…..belajar….dan belajar…..
Aku harus belajar untuk bisa menjalaninya.
Mengikhlaskan dia yang sudah tiada
Mengikhlaskan dia yang sudah menjadi milik orang lain.
Ikhlas,… sabar....
Sabar dan ikhlas…….
Hatiku…. harus bisa ikhlas dan sabar...

Ya Robb,.. jadikan aku hamba yang mampu ikhlas menerima ujianMu dan mampu sabar menerima ketentuanMu. Amiien..

Sahabatku...
Belajarlah untuk menjadi sabar dan ikhlas…..

Arti CINTA yang sebenarnya

Apa sebenarnya arti CINTA itu?
Cinta adalah kodrat yang diberikan Sang Pencipta untuk manusia. Cinta mampu menumbuhkan gairah hidup manusia untuk menggapai cita dan angannya. Cinta juga mampu membuat manusia hilang keinginannya untuk hidup. Lalu seperti apa cinta yang tulus itu.?

Cinta yang tulus dan suci tidak akan pernah melukai hati, perasaan siapapun. Hanya keikhlasan dan keyakinan kepada Sang pencipta, bahwa semua yang ada akan kembali kepadanya, dan yakin Dia akan memberikan cinta yang lebih kepada kita dari apa yang kita harapkan. 

Bisakah kita mencapai tarap itu? Menjadikan cinta tulus suci dan tak terbelenggu dengan syarat apapun. Mampu tidak membuat orang merasa tersakiti dan disakiti. Karena cinta yang tulus akan menumbuhkan rasa kebahagian yang luar biasa bagi pasangannya. Dengan cinta yang tulus kita akan siap melihat yang kita cintai berbahagia walaupun tidak harus hidup bersama kita. Dengan cinta yang tulus kita akan mampu berkorban tanpa pamrih untuk orang yang kita cintai. Ikhlas karena Allah semata.

Subhanalloh..
Kini benih-benih cinta mulai tumbuh…..semuanya tampak indah, semuanya tampak mempesona, tampak menyenangkan. Tapi hati-hatilah dalam memilih cinta…jangan sampai dirimu terjerumus dalam cinta yang salah.. yang hanya didasari oleh nafsu dan tipu daya dunia. Semoga..

Kutulis ini untuk seseorang yang jauh disana. Yang telah mengisi hatiku dengan cinta. Mudah-mudahan cintanya tulus dan suci.
Ya Allah, lindungilah dia disana. Bimbinglah dia untuk dapat menerima cintaku dengan ikhlasnya, dengan segala kekuranganku.
Amiin..!

Definisi CINTA

CINTA. Merupakan untaian kata yg tesusun dari lima huruf. Mempunyai makna dan arti sebanyak akal manusia. Yang tidak akan habis dibahas sepanjang masa. Semakin di artikan maka akan semakin kabur adanya. Cinta tidak bisa didefinisikan dengan jelas, karena tidak bisa dijangkau dengan kalimat dan sulit diraba dengan kata-kata.
Ada cinta harta, cinta dunia, cinta jabatan, cinta teman, cinta sahabat, cinta kekasih, cinta anak, cinta orang tua, dan cinta cinta cinta banyak lagi yang lainnya..
Tapi. Cinta hamba kepada Robb-nya adalah cinta yg paling tinggi dan cinta Allah terhadap hambanya adalah cinta yang paling ikhlas.
Bukan yang lain..
        Ya Allah jadikan aku salah satu dari kekasih-Mu.. Amiien.!

Cinta itu harus memiliki

CINTA ITU HARUS MEMILIKI DAN SUDAH PASTI TERMILIKI. 
Bagaimana kalau ternyata orang yang kita cintai itu kemudian dengan alasannya tiba-tiba meninggalkan kita ?... Atau kalau orang yang kita cintai ternyata tidak mencintai kita/cintanya ternyata bukan untuk kita ?

Yang pasti sedih, kecewa, marah, tidak terima, merasa semua pengorbanan yang kita berikan hanyalah sia-sia belaka.

Tapi seharusnya kalo memang kita benar-benar cinta, kita akan "membiarkan" cinta itu berkembang di hati kita tanpa berharap kita harus memiliki orang yang kita cintai atau mengharapkan balasan cinta juga dari orang yang kita cintai..  kita sudah memiliki dan tetap akan memiliki cinta di hati kita,,,.  itulah cinta sejati.. cinta yang tulus.. dari dalam hati.

Untuk orang yang kucinta, semoga kau berbahagia bersama pilihan hatimu.... aku hanya mampu tuk mencintaimu..

Kebahagiaan yang sesungguhnya

Apa itu yang disebut Kebahagiaan..?

Kebahagiaan sebenarnya bukan terletak pada mata, tangan, kaki atau anggota lahir. Rasa bahagia itu tempatnya di hati. Kalau hati senang, dalam miskin pun bisa merasa bahagia. Sebaliknya kalau hati rusak binasa maka ilmu tinggi, kaya raya dan pangkat sebesar apapun itu, tetap tidak akan hidup bahagia.

Itu bukti yang cukup jelas yang memang sudah menjadi pengalaman hidup semua orang. Kerana itu, untuk mencapai kebahagiaan hidup untuk individu mahupun masyarakat, apa yang mesti diutamakan ialah mendidik orang tersebut dengan iman dan taqwa. Bukan dengan harta, pangkat, ilmu tinggi, kemewahan, pembangunan, kemajuan dan kemodenan.

Iman dan taqwa bisa memjadikan orang miskin terhibur dengan kemiskinannya. Iman dan taqwa bisa memjadikan orang kaya pemurah dengan hartanya dan merasa terhibur jika dapat menyumbang kepada masyarakat dan berderma kepada fakir miskin. Iman dan taqwa bisa memjadikan orang-orang yang berkuasa menjadi rendah hati dengan rakyatnya serta terhibur kalau dapat berkhidmat pada rakyat.

Iman dan taqwa membuat anak-anak terhibur untuk taat kepada ibu bapa, isteri suka dan terhibur untuk taat kepada suami, pengikut terhibur mentaati para pemimpin, anak murid terhibur untuk hormat dan kasih kepada guru, si gadis jadi malu serta terhibur tinggal di rumah dan pemuda terhibur untuk memikul tanggungjawab dan menyumbangkan tenaga.

Bila manusia sudah berada dalam keadaan seperti ini, barulah harta yang banyak akan membawa bahagia. Barulah pangkat tinggi berguna dan segala kemoderenan, kemajuan dan pembangunan akan menjadi sumber keselarasan hidup yang bermakna.

Mudah-mudahan ....

Mendahulukan Kepentingan Bersama

Islam mengajarkan pemeluknya agar menjaga keseimbangan perilaku sosial dengan cara menjalani kebajikan
(‘amilun as-shalikhah) untuk kepentingan masyarakat umum. Kita lihat sejarah Rasul seluruh potensi jiwa raga beliau curahkan untuk kepentingan pelayanan umat, bahkan saat detik menjelang beliau dipanggil yang Maha Kuasa, kalimat yang terus terucap dari bibir beliau adalah umati-umati (umatku-umatku). Keteladanan Rasul sebagai figur pengayom dan pembimbing umat ini selalu dilandaskan pada kepentingan bersama tanpa memandang ras, suku, agama.
Faktor keberhasilan Rasul membangun masyarakat jahiliyah arab menuju masyarkat berperadaban Islam, salah satunya karena ditentukan oleh sikap dan perilaku Rasul yang senantiasa mendahulukan kepentingan bersama dari pada kepentingan diri sendiri, kelompok maupun golongan. Hal ini terbukti saat beliau dipercaya masyarakat Makkah untuk meletakan Hajar Aswad yang terlepas dari tempatnya akibat banjir bandang agar dikembalikan ke tempat semula. Apa tindakan beliau atas kepercayaan tersebut?. Saat itu beliau letakan hajar aswad di atas sehelai kain dan beliau panggil perwakilan (tokoh) dari berbagai suku di Makkah agar memegang ujung kain yang diatasnya ada hajar aswad, atas komando Rasul diangkatlah dengan bersama-sama sehelai kain tersebut untuk diletakkan di tempat semula.
Tindakan Rasul di atas mengisyaratkan bahwa dalam rangka membangun tatanan masyarakat yang beraneka ragam (heterogen) suku, ras, dan agama dibutuhkan sikap dan perilaku sosial yang dilandaskan kemaslahatan dan kebaikan bersama sehingga menghilangkan kesenjangan diantara kelompok atau golongan di tengah masyarakat itu sendiri. Kaidah fiqhiyah menyebutkan,”Tasharaful imam manuthun bi maslakhati ar-Ra’iyah (perilaku kebijakan seorang pemimpin harus didasarkan atas kebaikan/kemaslahatan umat).
Konsepsi teks ini bisa dijadikan sumber nilai universal (toleransi, kepedulian sosial, kebersamaan serta kesetiakawanan) untuk mencapai cita-cita bersama dalam aspek bidang kehidupan sosial ekonomi, politik, budaya, dan agama) yang adil dan sejahtera.
Untuk mencapai cita-cita tersebut, Islam telah memberikan instrumen ajaran (konstitusi syar’i) diantaranya adalah konsep zakat, infaq, shadaqoh, waqaf, serta qurban; ajaran konstitusional syar’i ini secara eksplisit menganjurkan umat agar memperhatikan kepentingan bersama (umat), memperhatikan hak ekonomi bagi masyarakat faqir-miskin. Untuk itu diperlukan pemberdayaan ekonomi melalui instrumen ajaran (konstitusi syar’i) dan tak terkecuali kepentingan yang lainnya (selain ekonomi). Perhatian Islam terhadap hak atau kepentingan bersama (umat) yang begitu serius dan kuat, karena Islam adalah satu tatanan nilai (world view) yang senantiasa menjunjung tinggi rasa kasih sayang (rahmatan lil ’alamin). Dan inilah tantangan yang harus segera kita jawab. Masih tetap mendahulukan kepentingan pribadi, atau masyarakat?.
???....!!

Do'a sesudah makan dan minum

الْحَمْدُللهِ الَّذِىْ اَطْعَمَنَا وَسَقَنَا وَجَعَلَنَا مُسْلِمِيْنَ

Al-hamdu lillaahilladzhi ath’amanaa wa saqoona wa ja’alnaa muslimiina.

Artinya :
"Segala puji bagi Allah, yang telah memberikan makan dan minum kepada kami, serta menjadikan kami dari golongan orang – orang yang berserah diri (kepada Allah)"

Do'a sebelum makan dan minum

الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Allahumma baarik llanaa fiima rozaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar"

Artinya :
"Yaa Allah, berikan keberkahan atas rizki yang engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka."

Do'a sebelum makan dan minum

الَّلهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

"Allahumma baarik llanaa fiima rozaqtanaa waqinaa adzaa ban-naar"

Artinya :
"Yaa Allah, berikan keberkahan atas rizki yang engkau berikan kepada kami, dan peliharalah kami dari siksa api neraka."

Hakekat Hidup Bahagia

Tidak ada orang yang ingin hidupnya tidak bahagia. Semua orang ingin bahagia. Namun hanya sedikit yang mengerti arti bahagia yang sesungguhnya.
Hidup bahagia merupakan idaman setiap orang, bahkan menjadi simbol keberhasilan sebuah kehidupan. Tidak sedikit manusia yang mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Menggantungkan cita-cita menjulang setinggi langit dengan puncak tujuan teresebut adalah bagaimana hidup bahagia.

Hidup bahagia merupakan cita-cita tertinggi setiap orang baik yang mukmin atau yang kafir kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Apabila kebahagian itu terletak pada harta benda yang bertumpuk-tumpuk, maka mereka telah mengorbankan segala-galanya untuk meraihnya. Akan tetapi tidak dia dapati dan sia-sia pengorbanannya. Apabila kebahagian itu terletak pada ketinggian pangkat dan jabatan, maka mereka telah siap mengorbankan apa saja yang dituntutnya, begitu juga teryata mereka tidak mendapatkannya. Apabila kebahagian itu terletak pada ketenaran nama, maka mereka telah berusaha untuk meraihnya dengan apapun juga dan mereka tidak dapati. Demikianlah gambaran cita-cita hidup ingin kebahagiaan.

Apakah tercela orang-orang yang menginginkan demikian? Apakah salah bila seseorang bercita-cita untuk bahagia dalam hidup? Dan lalu apakah hakikat hidup bahagia itu?
Pertanyaan-pertanyaan ini membutuhkan jawaban agar setiap orang tidak putus asa ketika dia berusaha menjalani pengorbanan hidup tersebut.

Hakikat Hidup Bahagia
Mendefinisikan hidup bahagia sangatlah mudah untuk diungkapkan dengan kata-kata dan sangat mudah untuk disusun dalam bentuk kalimat. Dalam kenyataannya telah banyak orang yang tampil untuk mendifinisikannya sesuai dengan sisi pandang masing-masing, akan tetapi mereka belum menemukan titik terang. Ahli ekonomi mendifinisikannya sesuai dengan bidang dan tujuan ilmu perekonomian. Ahli kesenian mendifinisikannya sesuai dengan ilmu kesenian. Ahli jiwa akan mendifinisikannya sesuai dengan ilmu jiwa tersebut. Mari kita melihat bimbingan Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasul-Nya Muhammad Shalallahu ‘Alahi Wasallam tentang hidup bahagia. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:
“Kamu tidak akan menemukan satu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir saling cinta-mencinta kepada orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya walaupun mereka adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka dan keluarga-keluarga mereka. Merekalah orang-orang yang telah dicatat dalam hati-hati mereka keimanan dan diberikan pertolongan, memasukkan mereka kedalam surga yang mengalir dari bawahnya sungai-sungai dan kekal di dalamnya. Allah meridhai mereka dan mereka ridha kepada Allah. Ketahuilah mereka adalah (hizb) pasukan Allah dan ketahuilah bahwa pasukan Allah itu pasti menang. “

Dari ayat ini jelas bagaimana Allah Subhanahu Wata’ala menyebutkan orang-orang yang bahagia dan mendapatkan kemenangan di dunia dan diakhirat. Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Allah Subhanahu Wata’ala dan hari akhir dan orang-orang yang menjunjung tinggi makna al-wala’ (berloyalitas) dan al-bara’ (kebencian) sesuai dengan apa yang dimaukan oleh Allah Subhanahu Wata’ala dan Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wasallam. As-Sa’di dalam tafsir beliau mengatakan: “Orang-orang yang memiliki sifat ini adalah orang-orang yang telah dicatat di dalam hati-hati mereka keimanan. Artinya Allah mengokohkan dalam dirinya keimanan dan menahannya sehingga tidak goncang dan terpengaruh sedikitpun dengan syubhat dan keraguan. Dialah yang telah dikuatkan oleh Allah dengan pertolongn-Nya yaitu menguatkanya dengan wahyu-Nya, ilmu dari-Nya, pertolongan dan dengan segala kebaikan. Merekalah orang-orang yang mendapatkan kebagian dalam hidup di negeri dunia dan akan mendapatkan segala macam nikmat di dalam surga dimana di dalamnya terdapat segala apa yang diinginkan oleh setiap jiwa dan menyejukkan hatinya dan segala apa yang diinginkan dan mereka juga akan mendapatkan nikmat yang paling utama dan besar yaitu mendapatkan keridhaan Allah dan tidak akan mendapatkan kemurkaan selama – lamanya dan mereka ridha dengan apa yang diberikan oleh Rabb mereka dari segala macam kemuliaan, pahala yang banyak, kewibawaan yang tinggi dan derajat yang tinggi. Hal ini dikarenakan mereka tidak melihat yang lebih dari apa yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala”.

Abdurrahman As-sa’dy dalam mukadimah risalah beliau Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa’idah hal. 5 mengatakan: “Sesungguhnya ketenangan dan ketenteraman hati dan hilangnya kegundahgulanaan darinya itulah yang dicari oleh setiap orang. Karena dengan dasar itulah akan didapati kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki”.
Allah berfirman:

Baraing siapa yang melakukan amal shleh dari kalangan laki-laki dan perempuan dan dia dalam keadaan beriman maka Kami akan memberikan kehidupan yang baik dan membalas mereka dengan ganjaran pahala yang lebih baik dikarenakan apa yang telah di lakukannya.
As-Sa’dy dalam Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa’idah halaman 9 mengatakan: “Allah memberitahukan dan menjanjikan kepada siapa saja yang menghimpun antara iman dan amal shaleh yaitu dengan kehidupan yang bahagia dalam negeri dunia ini dan membalasnya dengan pahala di dunia dan akhirat”.
Dari kedua dalil ini kita bisa menyimpulkan bahwa kebahagian hidup itu terletak pada dua perkara yang sangat mendasar : Kebagusan jiwa yang di landasi oleh iman yang benar dan kebagusan amal seseorang yang dilandasi oleh ikhlas dan sesuai dengan sunnah Rasulullah Shalallah ‘Alahi Wasallam.
Kebahagian Yang Hakiki dengan Aqidah

Orang yang beriman kepada Allah dan mewujudkan keimanannya tersebut dalam amal mereka adalah orang yang bahagia di dalam hidup. Merekalah yang apabila mendapatkan ujian hidup merasa bahagia dengannya karena mengetahui bahwa semuanya datang dari Allah Subhanahu Wata’ala dan di belakang kejadian ini ada hikmah-hikmah yang belum terbetik pada dirinya yang dirahasiakan oleh Allah sehingga menjadikan dia bersabar menerimanya. Dan apabila mereka mendapatkan kesenangan, mereka bahagia dengannya karena mereka mengetahui bahwa semuanya itu datang dari Allah yang mengharuskan dia bersyukur kepada-Nya.

Alangkah bahagianya hidup kalau dalam setiap waktunya selalu dalam kebaikan. Bukankah sabar itu merupakan kebaikan? Dan bukankah bersyukur itu merupakan kebaikan? Diantara sabar dan syukur ini orang-orang yang beriman berlabuh dengan bahtera imannya dalam mengarungi lautan hidup. Allah berfirman;

Jika kalian bersyukur (atas nikmat-nikmat-Ku ), niscaya Aku akan benar-benar menambahnya kepada kalian dan jika kalian mengkufurinya maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”.

Rasulullah Shalallah ‘Alahi Wasallam bersabda:
Dan tidaklah seseorang di berikan satu pemberian lebih baik dan lebih luas dari pada kesabaran”. ( HR. Bukhari dan Muslim )

Kesabaran itu adalah Cahaya.
Umar bin Khatthab Radhiyallahu ‘Anhu brkata: “Kami menemukan kebahagian hidup bersama kesabaran”. ( HR. Bukhari)
Mari kita mendengar herannya Rasululah terhadap kehidupan orang-orang yang beriman di mana mereka selalu dalam kebaikan siang dan malam:
“Sungguh sangat mengherankan urusannya orang yang beriman dimana semua urusannya adalah baik dan yang demikian itu tidak didapati kecuali oleh orang yang beriman. Kalau dia mendapatkan kesenangan dia bersyukur maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya dan kalau dia ditimpa mudharat mereka bersabar maka itu merupakan satu kebaikan baginya”.
As-Sa’dy rahilahullah mengatakan: ”Rasulullah memberitakan bahwa seorang yang beriman kepada Allah berlipat-lipat ganjaran kebaikan dan buahnya dalam setiap keadaan yang dilaluinya baik itu senang atau duka. Dari itu kamu menemukan bila dua orang ditimpa oleh dua hal tersebut kamu akan mendapatkan perbedaan yang jauh pada dua orang tersebut, yang demikian itu disebabkan karena perbedaan tingkat kimanan yang ada pada mereka berdua”. Lihat Kitab Al-Wasailul Mufiidah lil hayati As-Sa’idah halaman 12.

Dalam meraih kebahagiaan dalam hidup manusia terbagi menjadi tiga golongan.
Pertama, orang yang mengetahui jalan tersebut dan dia berusaha untuk menempuhnya walaupun harus menghadapi resiko yang sangat dahsyat. Dia mengorbankan segala apa yang diminta oleh perjuangan tersebut walaupun harus mengorbankan nyawa. Dia mempertahankan diri dalam amukan badai kehidupan dan berusaha menggandeng tangan keluarganya untuk bersama-sama dalam menyelamatkan diri. Yang menjadi syi’arnya adalah firman Allah;
Hai orang-orang yang beriman jagalah diri-diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka.

Karena perjuangan yang gigih tersebut, Allah mencatatnya termasuk kedalam barisan orang-orang yang tidak merugi dalam hidup dan selalu mendapat kemenangan di dunia dan di akhirat sebagaimana yang telah disebutkan dalam surat Al- ‘Ashr 1-3 dan surat Al-Mujadalah 22. Mereka itulah orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan merekalah pemilik kehidupan yang hakiki.
Kedua, orang yang mengetahui jalan kebahagian yang hakiki tersebut namun dikarenakan kelemahan iman yang ada pada dirinya menyebabkan dia menempuh jalan yang lain dengan cara menghinakan dirinya di hadapan hawa nafsu. Mendapatkan kegagalan demi kegagalan ketika bertarung melawannya. Mereka adalah orang-orang yang lebih memilih kebahagian yang semu daripada harus meraih kebahagian yang hakiki di dunia dan di Akhirat kelak. Menanggalkan baju ketakwaannya, mahkota keyakinannya dan menggugurkan ilmu yang ada pada dirinya. Mereka adalah barisan orang-orang yang lemah imannya.

Ketiga, orang yang sama sekali tidak mengetahui jalan kebahagiaan tersebut sehingga harus berjalan di atas duri-duri yang tajam dan menyangka kalau yang demikian itu merupakan kebahagian yang hakiki. Mereka siap melelang agamanya dengan kehidupan dunia yang fana’ dan siap terjun ke dalam kubangan api yang sangat dahsyat. Orang yang seperti inilah yang dimaksud oleh Allah dalm surat Al-‘Ashr ayat 2 yaitu “Orang-orang yang pasti merugi” dan yang disebutkan oleh Allah dalam surat Al-Mujadalah ayat 19 yaitu “ Partainya syaithon yang pasti akan merugi dan gagal”. Dan mereka itulah yang dimaksud oleh Rasulullah dalam sabda beliau:
Di pagi hari seseorang menjadi mukmin dan di sore harinya menjadi kafir dan di sore harinya mukmin maka di pagi harinya dia kafir dan dia melelang agamanya dengan harga dunia
.
Banyak pelajaran yang bisa kita ambil dalam hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wasallam, diantaranya adalah kebahagian hidup dan kemuliaannya ada bersama keteguhan berpegang dengan agama dan bersegera mewujudkannya dalam bentuk amal shaleh dan tidak bolehnya seseorang untuk menunda amal yang pada akhirnya dia terjatuh dalam perangkap syaithan yaitu merasa aman dari balasan tipu daya Allah Subhanahu Wata’ala. Hidup harus bertarung dengan fitnah sehingga dengannya ada yang harus menemukan kegagalan dirinya dan terjatuh pada kehinaan di mata Alllah dan di mata makhluk-Nya.
Wallahu A’lam .

Dikutip dari http://www.asysyariah.com/